kriminal sex

kriminal sex
diadopsi dari sebuah web dan sebagai gambar hiasan

Kamis, 21 April 2011

GADIS LUGU JADI BUDAK SEX

Terserah orang mau bilang apa tentang diriku. Tapi aku yang tahu, bahwa saat disetubuhi Bang Yudi (21), aku dalam keadaan tak sadar. Aku seakan pingsan setelah diberi air minum oleh Bang Yudi yang menetap di Gang Turang, Desa Bangun Sari, Tanjung Morawa itu.

Tapi setelah mahkotaku direnggut, pria yang ngaku pegawai di Dinas PU Deli Serdang itu malah tak mau bertanggung jawab. Segala cara dan berbagai alasan dikemukakannya agar bisa menghindar dariku. Karena itulah aku melaporkan Bang Yudi ke Polres Deli Serdang karena menolak bertanggung jawab atas perbuatannya.

Oya, sebut saja namaku Luna, usia 18 tahun dan masih status pelajar SMA. Aku gadis desa di seputaran Tanjung Morawa. Jujur saja, aku jarang keluar dari kampung, jika pun pergi pasti bersama keluarga atau pun teman-teman. Mungkin keluguanku inilah yang dimanfaatkan Bang Yudi.

Aib yang kualami terjadi akhir Mei lalu. Bang Yudi menjemputku dari rumah. Beralasan hendak mengajakku makan malam, Bang Yudi pun membawaku pergi keluar rumah. Kami makan di kafe seputaran Tanjung Morawa.

Keluar dari kafe, Bang Yudi mengajakku singgah ke rumah Ateng, temannya. Nah, setiba di rumah itu, seakan sudah diatur, usai berbicang-bincang sebentar, Ateng pamit dengan alasan beli makanan di kota Tanjung Morawa. Tinggallah kami berdua di rumah yang memang lagi tak ada penghuninya itu.

Kesempatan itu digunakan Bang Yudi untuk merayuku. Namun aku berusaha menahan diri. Bang Yudi terus merayu mengajakku masuk dalam kamar Ateng. Aku merasa tak begitu kenal Bang Yudi, apalagi status kami hanya berteman saja.

Entah bagaimana Bang Yudi memberikan aku air mineral yang kemasannya sudah terbuka. Tak enak menolak minuman itu, aku pun langsung menenggaknya. Tak dinyana, selang beberapa menit kemudian, aku merasa kepalaku pusing luar biasa. Sebelum kesadaranku hilang, aku merasa tubuhku dibopong Bang Yudi ke kamar. Di saat itulah Bang Yudi menikmati tubuhku dan merusak mahkota keperawananku.

Begitu sadar, aku terkejut melihat tubuhku bugil tanpa sehelai benangpun menutupinya. Aku menangis terisak-isak. Bang Yudi membujukku dan berjanji akan bertanggung jawab atas perbuatannya. Aku lalu pulang diantar Bang Yudi.
gambar hiasan

Namun setibanya di rumah, orangtuaku keheranan melihat wajahku pucat dan tubuhku lemas sekali. Tak sanggup menahan rahasia, aku lantas mengisahkan kembali prilaku bejat Bang Yudi padaku. Mendengar pengakuanku, orangtuaku langsung mendatangi keluarga Bang Yudi menuntuk tanggung jawab. Namun hanya tanggapan dingin yang orangtuaku terima dari pihak keluarga mereka. Karena itu pula, aku didampingi orantuaku melaporkan Bang Yudi ke Polres Deli Serdang, Sabtu (5/6).

Laporanku tertuang dengan nomor: LP/348/VI/2010/DS. Biarlah persoalan ini kami serahkan ke polisi. Aku berdoa semoga keadilan kudapat.

Sementara, Kapolres Deliserdang AKBP Pranyoto Harahap SiK melalui Kasatreskrim AKP Sugeng Riyadi SiK menyatakan, pihaknya akan memanggil beberapa saksi atas pemerkosaan yang dilakukan Yudi terhadap gadis di bawah umur tersebut. [posmetro-medan]

Sabtu, 26 Februari 2011

StatCounter - Free Web Tracker and Counter

Si Kakek kurang kerjaan

gambar hiasan

 

Aneh Tahroji, 68, ini. Sebagai ketua serikat pekerja, kenapa dia masih kurang kerjaan? Ada janda nganggur dikumpulkeboi, padahal dia masih punya istri. Ny. Wahyuni, 50, sih mau-mau saja, tapi anak lelakinya yang malu. Maka Jatman, 26, pun ambil tindakan. Kakek kurang kerjaan itu ditusuk pisau rahanya, jusss!

Tahroji memang termasuk lelaki aktif dalam organisasi. Dalam usia bukan lagi muda, nyaris mendekati Mbah Maridjan, dia masih dipercaya sebagai ketua SPSI Kecamatan Slogoimo Kabupaten Wonogiri (Jateng). Dan sejak 5 tahun lalu malah, dia aktif pula dalam lembaga non departemen, namanya Partai Karya Peduli Janda. Maklum lah sudah beberapa tahun ini dia ngopeni (memelihara) janda STNK (Sudah Tua Namun Kenyal) asal Desa Biting Kecamatan Purwantoro.

Ironisnya, janda Wahyuni tak dinikah secara resmi, melainkan hanya dikumpul-keboi semata. Bagi lelaki yang pemahaman agamanya sebatas sampai KTP, lembaga perkawinan untuk mengesahkan hubungannya dengan sang janda, dianggap tidak perlu. Baginya, kegiatan bersama Wahyuni selama ini sekadar bentuk kerjasama nirlaba saja. Sini enak, sana kepenak (nikmat), cukuplah itu. Oleh karenanya selama ini, tak pernah ada surat menyurat, tapi buka aurat jalan terus!

Kata sumber yang layak dipercaya, status menggantung seperti ini bukan maunya Tahroji semata. Sebetulnya dia ingin pula menikahi janda itu secara resmi, tapi Wahyuni yang tidak mau dengan alasan takut pensiunan almarhum suaminya hilang. Sebab bagi janda sejumlah anak ini, dalam usia sekritis ini dia tak begitu perlu soal materil, karena yang penting onderdil. Jelas ini sangat menguntungkan Tahroji. Jadi “pengurus” Partai Karya Peduli Janda, ternyata kewajiban politiknya cuma harus rajin mengasup telur mentah campur madu dan merica. Itu saja.

Akan tetapi langit asmara di Wonogiri tidaklah selalu cerah. Sudah beberapa bulan ini Tahroji tak lagi memasok materil dan onderdil pada Wahyuni. Alasannya, dia mulai cemburuan. Nah, gara-gara janda itu ditinggal begitu saja setelah sekian lama diobok-obok, para tetangganya pun mempergunjingkannya. Bahkan Jatman anak sulung Wahyuni diledek sebagai anak yang tak punya harga diri. “Kayu diumpaki, cagake lenceng dhewe. Ibune ditumpaki anake meneng wae (ibu dikeloni anak diam saja),” ledek teman-teman Jatman.

Hati Jatman lama-lama jadi panas, ketika olok-olok itu selalu berseliweran masuk telinganya. Benar juga kata orang-orang itu, masak ibunya hanya dijadikan obyek seksualitas semata, tanpa ada timbal balik yang nyata. Maka ketika beberapa malam lalu dia melihat mantan gendakan ibunya itu berasa di Pasar Slogoimo, darah mudanya pun mendidih. Pisau pemecah es yang dibawanya dari rumah langsung ditusukkan ke rahang Tahroji, juss. Kakek nafsu besar itu pun terjungkal mandi darah, sedangkan Jatman yang hendak kabur ditangkap dan diserahkan ke Polsek Slogoimo malam itu juga.

Gelora Si Tua Bangka

StatCounter - Free Web Tracker and Counter
 

Tuesday, feb 18, 2011


Cinta dan asmara memang tak mengenal batas umur. Kakek usia 65 tahun macam Mbah Demen, pun tak dilarang undang-undang naksir wanita yang pantas jadi cucunya. Cuma hendaknya tahu diri. Jika tak diterima aspirasi arus bawahnya ya jangan main perkaos. Sebab bisa runyam akibatnya, kasihan pak polisi.

Ini kisah klasik penyimpangan asmara. Jika umur sudah kepala 6 macam Mbah Demen, mestinya tahu dirilah. Ingatlah sekarang yang di Atas, jangan urusan yang di bawah melulu. Bukankah pepatah pepitih para orang tua mengatakan: wong urip iku endi parane (orang hidup ke mana tujuannya). Maksudnya, di kehidupan dunia yang singkat ini harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk rumah masa depan. Sebab, jika sudah mati, tak kan didaur ulang lagi oleh Sang Pencipta.

Nah, Mbah Demen dari Desa Bandaran Kecamatan Kedungjajang Kabupaten Lumajang (Jatim) ini agaknya belum menerima pencerahan semacam ini. Dalam usia sudah bau tanah kuburan, masih juga memikirkan soal selangkangan. Jika melihat cewek berbodi mulus, terutama janda, pendulumnya masih kontak sementara mulutnya komat-kamit macam paranormal. Bukan tengan membaca mantera, melainkan menahan air liur yang ngocor bak keran bocor.

Tingkah laku Mbah Demen yang demikian mungkin bisa dimaklumi. Sebagai lelaki normal, sejak ditinggal mati istrinya 5 tahun lalu, dia tak pernah lagi melakukan kegiaan signifikan di malam hari. Di malam yang dingin, di antara cahaya bulan purnama, Mbah Demen hanya glundang-glundung sendirian. Kalau ada kegiatan, paling-paling ura-ura atau nyanyi tembag Jawa. “Bedug tiga, datan arsa guling, padang bulan kekadar neng latar, tenguk-tenguk lungguh dewe (sudah pukul 03 malam belum bisa tidur, duduk duduk sendirian di halaman di antara sinar bulan purnama),” senandung Mbah Demen dengan suara macam ember ketendang.

Ada niat sebetulnya untuk menikah kembali, tapi sudah tidak laku. Masalahnya, di samping anak-anak tidak setuju, si kakek ini memang belum sekelas Pak Domo. Mantan Kopkamtib ini sih lain, biar tua duitnya kan banyak, jadi masih banyak dilirik perempuan. Lha Mbah Demen ini apa? Pensiun tidak punya, sawah tidak seberapa luas. Kerjanya di rumah hanya kongkow-kongkow melulu, sambil nyeteti burung. Prestasi sudah tidak ada, kentut saja yang dibanyakin!

Kentut masih bisa dikurangi, tapi nafsu dan gairah sebagai lelaki? Kuping setiap pagi sudah dikilik-kilik, agar “si jendul” tak lagi demo dan unjuk rasa. Tapi tak juga menolong keadaan. Kalau demo mahasiswa di Senayan sih masih bisa dikendalikan, pakai gas air mata atau peluru sekalian. Tapi kalau “si jendul” ini lain, mbregudul gak ngerti tembung (nekad, tak memahami kata-kata), orang Jawa bilang.

Untungnya Mbah Demen segera memperoleh pelipur lara. Di dekat rumahnya, kini bermukim seorang janda muda, namanya Dumilah, 30. Wajah biasa-biasa saja, status sosial juga tak jauh beda dengannya, jika tak mau disebut pada kerene (sama melaratnya). Apa lagi dia sering main ke rumah Mbah Demen, untuk ngobrol-ngobrol dengan seorang anak perempuan si kakek. Cuma untuk memulai, Mbah Demen selalu kehilangan kata-kata. Kata-kata “tua bangka” selalu membayang di benaknya.

Berminggu-minggu tak bisa mendeklarasikan dan menyalurkan cintanya, Mbah Demen kehilangan kendali. Beberapa hari lalu, pas Dumilah hendak ngobrol-ngobrol dengan anak Mbah Demen, ternyata kecele. Dalam situasi rumah yang sepi ini si kakek genit merasa dapat peluang. Sebelum janda kenyal itu berbalik bakul, langsung disergap, hip. Mau meronta sebetulnya, tapi Mba Demen masih rosa-rosa macam Mbah Maridjan. Maka hanya dalam hitungan detik, kedudukan sudah berhasil 1-0 untuk Dumilah.

Asamara telah tertunaikan, nafsu telah tersalurkan. Tapi selesaikah persoalannya hingga di sini? Tentu saja tidak. Dumilah yang diperkosa kakek tua bangka, merasa terhina dan ternoda. Diantar keluarganya dia mengadu ke Polsek Kedungjajang, dan Mbah Demen pun segera ditangkap. Tapi dalam pemeriksaan, sepertinya si kakek ini pede-pede saja. Saat ditanya petugas, sudah tua begitu kok masih suka daun muda, dia menjawab enteng: sekedar untuk cari anget-anget saja. “Memangnya pernen jahe, Mbah?” sergah pak polisi.

Kayak permen nano-nanolah, Dumilah rasanya memang rame.

Gadis ABG Berbuat Mesum Demi Sabu – Sabu, Seks Bebas Akibat Pergaulan Bebas

Sabtu (5/2) pukul 09.00 WIB, penulis dibangunkan suara ketukan. Di depan pintu berdiri, seorang pria, Putra (25) dan seorang wanita berambut sepunggung dicat pirang. Kemeja biru bermotif bunga dan celana jeans biru muda, memperjelas kulitnya yang putih. Sepatu Prada berwarna hitam dengan high hell pun seolah menegaskan kaki yang panjang menopang tegak tubuhnya. “Tari,” ucap bibir mungil itu memperkenalkan diri.
Berbuat Mesum Demi Sabu - Sabu, Akibat Pergaulan Bebas
Berbuat Mesum Demi Sabu - Sabu, Akibat Pergaulan Bebas
Penulis sengaja mengundang keduanya. Tanpa melepas alas kakinya Tari (19) melangkah menuju ruangan yang disiapkan untuk kehadirannya pagi itu. Setelah melepas sepatu di pintu ruangan tadi, wanita yang baru memasuki semester persiapan di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Kota Medan, langsung menuju tempat tidur untuk kemudian merebahkan tubuhnya yang terlihat sedikit pucat. “Duh, cepat lah jemput Bang Put. Nggak tahan lagi Tari ini,” ucapnya gemetaran.
Pria yang disebut Putra tadi pun pamit sembari menitipkan Tari untuk ditinggal sesaat. Sementara Tari mulai gelisah dalam duduknya. Sebatang rokok yang disulut tak juga meredakan tubuhnya yang gemetar. “Sabar ya, Bang, nanti habis make aja ya, ga pa-pa kan, Bang,” ucapnya lemah tapi manja.
Tak berapa lama suara sepeda motor pun terdengar pertanda Putra sudah kembali. Sesampai di dalam kamar tadi, Putra mengeluarkan plastik kecil layaknya pembungkus obat. Isinya butiran-butiran kristal yang dikenal dengan sabu-sabu, narkoba jenis psikotropika.
Melihat bungkusan tadi, Tari pun menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Seolah lega karena tak lama lagi siksaan yang dialaminya akan hilang, meskipun hanya sementara. Seketika Putra melanjutkan aktivitasnya menyiapkan perlengkapan seperti bong (sejenis pipa yang didalamnya berisi air) dengan dua pipa yang dihubungkan dan alat pembakar dari mancis dengan tingkat pembakaran yang sangat halus.
Setelah perlengkapan siap, Putra pun menyerahkan kepada Tari, sebelumnya meletakkan sejumlah sabu bagian pipa yang terbuat dari kaca. Bibir mungil Tari kemudian menempel di pipa satunya dari plastik untuk menghisap sabu yang berubah menjadi asap karena proses pembakaran tadi. Dibutuhkan 20 detik bagi Tari untuk menyedot habis asap sabu tadi dan mengepulkan sebahagian yang tersisa ke udara.
Tari mengulangi hal itu sekali lagi lalu menyerahkan peralatan bong tadi kepada Putra. Air yang memang disiapkan diteguk kemudian menyulut sebatang rokok sebelum memulai kisahnya. “Gitu lah, Bang kalau lagi pengen. Tapi memang kebetulan aku lagi bokek aja. Malas minta sama bonyok (bokap-nyokap, bahasa prokem untuk kedua orangtua, Red),” akunya.
Tari yang lahir di Komplek Mewah di jalan Tubagus daerah Dago Bandung, 19 tahun silam dan satu unit rumah yang dikontrakkan kedua orangtuanya di Komplek TPI Jalan Gagak Hitam (Ringroad) Medan menunjukkan bahwa dirinya bukan datang dari kalangan bawah. Hal itu mempertegas kesan pertama yang timbul dari busana maupun parfum yang dikenakannya.
Dengan keberadaan orangtua sebagai pengusaha sukses di Kota Kembang, masa kecil Tari pun terbilang bahagia. Apalagi sebagai putri tunggal seluruh permintaannya mustahil tidak terpenuhi. Hingga Tari tumbuh dengan kesempurnaan fisik, tinggi 170 centimeter dan berat sekitar 55 kilogram, langsing. Rambut ikal dan wajah opal berkulit putih yang ditopang kaki jenjang dengan betis bunting padi. Karunia yang menjadi awal bencana.
Seperti remaja lainnya, di usia 16 tahun Tari merasakan getar asmara saat berkenalan dengan Hendra yang merupakan kakak kelasnya di salah satu SMA Negeri terkenal di Bandung. Hubungan yang dibina selama satu tahun setengah itu pun membuat Tari yakin untuk menyerahkan harta yang paling berharga darinya. “Aku sudah yakin bangat kalau dia (Hendra) bakal jadi suami aku. Tapi ternyata aku salah,” ucapnya tertunduk.
Tampak genangan air di kedua mata Tari saat dia mendongak, mencoba menahan genangan itu tidak jatuh. Tangannya pun dengan cepat menyambar tisu yang ada untuk menyeka kedua matanya. Airmata itu tak terbendung, jatuh. Seperti kejatuhan Tari pasca dikhianati sang pacar yang tanpa merasa bersalah meninggalkannya untuk menikah dengan wanita lain.
Mengingat kebaikan yang didapatkan selama ini, Tari pun menutupi masalah itu dari kedua orangtuanya. Dirinya mulai mencari pelarian dari gemerlapnya dunia malam. “Memang aku tahu beberapa teman di sekolah sering dugem, selama ini hanya sekadar berteman dengan mereka. Jadi pas masalah itu, mereka welcome saja aku datang,” kenangnya.
Jalan Tari pun berubah. Kursus musik dan kurikulum yang sebelumnya kerap diikuti hanya sebagai alasan untuk keluar dari rumah. Dirinya menghabiskan waktu tadi untuk berkumpul dengan teman-teman di mal. Tari pun mulai memperhatikan penampilannya. Sembari ngumpul biasanya dia singgah ke salon atau belanja pakaian yang terbaru untuk digunakan saat dugem.
Tari pun harus berbohong kepada kedua orangtuanya bila ada tugas kelompok yang harus diselesaikan di rumah salah satu teman sekolah. Padahal saat itu lah dia dan teman-teman badung lainnya menjalankan rencana dugemnya. Hingga menamatkan pendidikannya di SMU Tari mengaku masih bisa bertahan untuk tidak terjun ke dalam seks bebas.
Namun, saat dirinya melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta terkenal di Kota Bandung, perubahan dunia dan pola pergaulan membuat Tari ingin lebih bebas menikmati hidupnya. Alasan ingin mandiri, Tari lalu dicarikan rumah kontrakan oleh kedua orangtuanya. Sengaja memilih di lokasi kampus, kedua orangtua Tari berharap putri tunggalnya lebih giat menuntut ilmu.
Ternyata salah, hal itu justru memberi kebebasan yang sebebas-bebasnya. Dugem yang biasa dilakukan bersama teman-teman wanita sudah dibumbui dengan beberapa pria. Rata-rata kenalan di lokasi dugem yang didatangi Tari dan kawan-kawan. “Kenalan-kenalan, terus kita jalan nyari makan, habis makan bersama cowok itu, lupa aku, ngajak check in. Kita yang sudah enak bawakannya mau aja,” bebernya lagi.
Di rumah yang terletak di kawasan Bandung Utara itu Tari berkenalan dengan narkoba jenis sabu. Rasa penasaran yang tinggi pun membuatnya terlibat dan turut menikmati barang haram tadi. “Kok waktu itu aku merasa badan ini jadi fit aja dan horny. Jadi waktu tinggal kita berdua, soalnya yang lain keluar, aku mau aja diajak gitu,” cetusnya sembari memberi kode untuk menyedot sabu lagi sebelum melanjutkan ceritanya.
Pengalaman baru itu terus ditelusuri dan dengan keuangan yang ada hal itu, bukan hal yang mustahil. Kegiatan di ranjang yang melelahkan seolah menjadi menu penutup setelah mengkonsumsi sabu tadi. Hingga satu penggerebekan di akhir 2009 membuatnya harus berurusan dengan pihak berwajib. Hasil tes urine yang dilakukan sebenarnya mengharuskan Tari menjalani hukuman di lembaga permasyarakatan.
Begitu pun kekecewaan yang ditimbulkan, Tari tetap mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya. Tak ingin putrinya jadi pesakitan, sang Bapak pun memanfaatkan relasinya untuk melepaskan Tari dari semua tuntutan. Sekalipun dengan catatan, Tari harus menghilang dari Kota Kembang. “Aku pernah ada kenalan dari Kota Medan. Itu lah ceritanya kenapa aku bisa sampai di sini,””paparnya kembali menyulut sebatang rokok.
Awal 2010 tepatnya Februari, Tari pun terbang ke Medan setelah sebelumnya mengontak Rini warga Kampung Baru Medan untuk mencarikan rumah kontrakan untuknya. Rumah tipe 45 di Jalan Gagak Hitam itu rupanya cocok dengan kedua orangtua Tari sehingga kontrak langsung diteken. Setelah semua urusan kontrakan dan kebutuhan dipenuhi, Tari pun melanjutkan hidupnya dengan keuangan yang tidak sebebas dulu lagi.
Seringnya aktivitas yang dilakukan di kota kelahiran ternyata membawa dampak kecanduan bagi Tari. Karena belum menemukan kampus yang tepat untuk melanjutkan pendidikannya kegiatan Tari pun lebih banyak kosong. Gemerlap lampu dan dentuman audio selalu menggelitik panca inderanya. Lewat temannya Rini, Tari pun kembali mengulang kebiasaan dugem di Kota Medan.
“Pertama itu diajak Rini ke Zone. Beberapa kali masuk dapat kenalan yang ngajak ke tempat lain. Sejak itu kita pun main di Tobasa dan sekarang seringan di Entrance,” lanjutnya setelah kembali meneguk air di gelas pelastik.
Namun, keuangan yang terbatas menjadi kendala bagi Tari untuk menyalurkan hobinya itu. Terlebih setelah dirinya mendaftar di salah satu perguruan tinggi swasta seputaran Stadion Teladan Medan. Bukan dengan hobi dugem, dimana dirinya sebagai wanita memiliki akses untuk masuk. Begitu juga dengan minuman yang masih mampu dibelinya. Bahkan tidak sedikit pria hidung belang yang suka-rela menawarkan minuman kepadanya.
Tapi, di akhir bulan saat jatah keuangannya sudah menipis, sementara serangan berupa nyeri di tulang sebagai dampak kecanduan sabu semakin sering menyapa. Tak ayal, mulailah Tari mengizinkan lelaki hidung belang menikmati tubuhnya demi imbalan sejumlah uang membeli sabu.
“Lebih sukak diajak tubang (tua bangka). Duitnya tebal tapi tenaganya cepat habisnya. Makanya sebelum masuk, aku make dulu. Jadi kalau dia sudah keluar, ya aku tinggal aja minta duitnya. Kalau mood aku masuk lagi untuk tambah-tambahan biar stok beberapa hari aman,” beber Tari. Ternyata kebutuhan Tari akan sabu sudah semakin besar. Strategi menjajakan tubuhnya tadi pun tidak selamanya dapat menyelamatkannya dari rasa ngilu layaknya rematik tadi. Hingga dirinya pun melakoni status barunya yang dikenal dengan cewek STP. Asalkan bisa mendapatkan sabu, Tari merelakan tubuhnya sebagai imbalan. (indra juli hutapea)
 

Anak SMP (ABG) di perkosa 4 Polisi dan 2 warga sipil di Biak Numfor, Papua

Polisi yang seharusnya menjadi pengayom warga, justru melakukan tindakan sebaliknya, yaitu membuat kejahatan kepada warga, yang lebih mengenaskan lagi, korban merubapakan anak SMP kelas 3 yang masih ABG.
Anak SMP (ABG) di perkosa 4 Polisi dan 2 warga sipil di Biak 
Numfor, Papua
Anak SMP (ABG) di perkosa 4 Polisi dan 2 warga sipil di Biak Numfor, Papua
Empat oknum anggota Polres Biak Numfor, Papua, diduga memperkosa secara bergiliran gadis di bawah umur bersama 2 warga sipil lainnya. Padahal ABG bernisial MW ini baru berusia 15 tahun dan masih mengeyam pendidikan di salah satu Sekolah Menengah Pertama Kabupaten Biak Numfor.
Sampai saat ini MW masih trauma serta kerap mengeluhkan rasa sakit dibagian kemaluannya usai digilir oleh keenam pelaku. Sebelum disetubuhi, korban diduga mengalami penganiaya terlebih dahulu oleh para pelaku. Sehingga korban yang tidak berdaya langsung disetubuhi keenam pelaku
Kepada wartawan dan rombongan Komisi Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Biak Numfor, MW dirumahnya, Rabu (16/2/2011), terlihat shock dan terbaring sambil menitikkan air mata ketika mengingat kejadian memilukan itu. Korban menceritakan kejadian memilukan itu bermula lewat sms ajakan makan, pada hari Kamis (10/2) oleh salah satu anggota polisi.
“Saya di sms katanya mau ajak makan, jadi saya di jemput di pasar buah tapi kita tidak pergi makan tapi langsung di bawa ke pondok indah,” ujarnya sambil sesenggukkan.
Sesampainya di pondok indah, 4 anggota polisi bersama 2 warga sipil yang dalam keadaan mabuk menganiaya korban meminta melakukan hubungan intim. ”Saya sempat di tahan selama dua hari tidak pulang kerumah, dan mereka bergantian melakukan hubungan badan dengan saya,” imbuhnya.
Orang tua korban, Maya, mengaku kecewa atas peristiwa tersebut karena anaknya yang kini duduk di SMP kelas 3, terancam tidak bisa mengikuti ujian nasional karena shock berat.
Ditempat terpisah Kapolres Biak Numfor AKBP Rickho Taruna Mauruh yang di konfirmasi terkait hal ini, membenarkan keempat anggotanya telah melakukan tindakan asusila dan kini sudah ditahan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Empat oknum anggota Polisi sudah kita tahan untuk proses penyidikan, bersama 2 masyarakat lainnya,” ujar Kapolres. Sementara ditanya soal sanksi, Kapolres mengatakan keenam tersangka akan dikenakan pasal perlindungan anak, yakni hukuman maksimal 5 tahun penjara. Selain itu keempat anggota polisi itu akan disidang kode etik terhadap dengan ancaman pemecatan karena telah merusak nama baik institusi.